Korean daily · mikirmikir

Korea, random stories #2

Halo!

Sudah 9 bulan saya di sini,kemarin sempat ngobrol dengan senior yang memutuskan studinya di Korea untuk kemudian pindah ke Jerman.
Sebuah keputusan yang berat menurut saya,karena di Korea beliau dapat beasiswa yang tidak bisa dibilang kecil,malah bisa menabung (banyak). Sementara di Jerman,dia harus part time dan tidak dapat beasiswa.

Apakah dia sedih?
Tidak tuh. Tidak-sama-sekali. Ngek.
Karena di Jerman dia belajar banyak hal. Banyak akademik,softskill dan pelajaran hidup yang dia dapat di Jerman yang tidak dia dapat di Indonesia atau Korea.

Ah,saya jadi berkaca pada diri saya sendiri. Apa yang sudah saya lakukan 9 bulan ini?
Dia juga bertanya pertanyaan yang sama. Dan akhirnya saya bilang : belajar masakan korea *desperate*
LOL.

Oiya,beberapa waktu lalu ada video ttg perlakuan profesor Korea ke mahasiswa Indonesianya –videonya udah di hapus,kecuali yang di web perpika– cb nanti saya update kalo udah nemu linknya ya,skrg susah karena pake hp.
Sempat baca juga perlakuan diskriminasi Korean terhadap foreigner yang –meski saya tidak pernah dibegitukan,Alhamdulillaah– seharusnya membuka mata bahwa hidup di Korea tidak semanis drama.

Suatu hari ketika makan malam bersama labmates,mereka bertanya tidakkah saya merasa kesepian?
Entah mungkin saya yang aneh dan GR, saya hanya mengatakan kalau saya tidak kesepian karena punya teman-teman disini,mereka kan juga termasuk teman saya. Mereka tertawa. Belakangan,saya baru tahu kalau orang korea tidak serta merta menganggap kita teman –apalagi bagi foreigner dan tidak ikut mereka minum. Nasionalisme orang korea tinggi sekali. Yang kemudian membuat saya berpikir:  Oh kalau kemudian saya hanya dianggap rekan kerja ya terserahlah :p

Fakta lain tentang orang korea: mereka suka membicarakan foreigner di depan orangnya,tapi ketika ditanya ada apa–karena kan ga bisa bhs Korea ya–mereka jawab tidak ada apa apa.
Mungkin ini yang membuat,teman-teman yang fasih berbahasa korea dan Arman yang notabene lulusan Eropa (yang kabarnya di Eropa sangat sopan orang-orangnya) tidak suka. Sementara saya dan Pak Cahyadi yang tidak bisa berbahasa korea,merasa happy-happy saja tinggal disini.

Long short story,saya bersyukur diberi kesempatan menginjak tanah yang sama dengan Song Joong Ki oppa *lho fokus..fokus..* bisa berada di sini,karena seperti yang mbak Dewi bilang..insha Allah setelah dari sini, kita bisa menjadi wanita yang lebih kuat ♥

update:
kalo mau tau ceritanya bisa klik link ini ya! 🙂

Advertisements

One thought on “Korea, random stories #2

  1. di manapun berada, Insya Allah,pasti ada banyak pelajaran dan pengalaman yg bs diambil,mau dalam negeri atau luar negeri

    merantau membuat seseorang jd manusia yg lebih dewasa dan kuat,it bener hayu…good luck ya :-),smgt ut master studynya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s