Islam · nostalgia

Quote.

"Gadis temannya adikmu itu memang baik.Bue akui itu.
Sopan santunnya baik. Cuma ada satu hal yang ibu amati, 
dan bue tidak cocok adalah ketika dia dulu menginap di sini, 
bisa-bisanya habis shalat subuh tidur lagi. Padahal kita bertiga tidak tidur. 
Dia lalu bangun jam tujuh pagi. 
Ini yang membuat ibu tidak cocok.
Bagaimana kalau dia nanti jadi ibu bakda subuh tidur. 
Di rumah orang saja nekat begitu apalagi nanti di rumah sendiri."

"Terus itu Si Tika atau Kartika Sari yang jadi penjaga kios Sumber Rejeki di pasar Klewer. 
Memang dia cantik dan anggun. Saat kita dolan ke rumahnya juga baik tutur bahasanya. 
Tapi Bue tidak suka caranya dia tertawa. Tertawanya ngakak-ngakak seperti itu. 
Dia itu seorang gadis masak tertawanya ngakak begitu. 
Kalau laki-laki masih agak mending, mungkin masih agak bisa dimaklumi. 
Ini gadis. Rasulullah saja kalau tertawa tidak ngakak-ngakak begitu. 
Setelah mendengar dia tertawa seperti itu Bue langsung kehilangan selera. 
Maaf, yang biasa tertawa begitu itu biasanya perempuan murahan, pelacur. 
Bukan Bue menganggap dia perempuan murahan bukan. 
Ibu hanya menjelaskan kenapa bue tidak suka. 
Daripada Bue punya menantu kalau setiap tertawa bue tidak suka dan setiap dia tertawa,
bue langsung teringat perempuan murahan kan lebih baik tidak bue iyakan."

(Ibu Nafis, kepada Azzam)
Ketika Cinta Bertasbih
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s