mikirmikir · wacana-wacini

Perempuan.Nanti.Di Mata Mereka.

Saya selalu kagum pada teman-teman yang sudah merencanakan masa depan mereka.

teman-teman yang, ketika saya tanyakan rencana setelah lulus, mengatakan:

“mau kerja di instansi nuklir, Hay” (good!)

“pengen buka usaha sendiri lah, ga mau disuruh-suruh orang” (hebat!)

“Jadi Pegawai BUMN” (waaow!)

“PNS aja” (ssipppoo!)

“naik haji” (gue juga mau!!)

“kerja di swasta, sebagai batu loncatan karir” ( 🙂 )

“lanjut S2 ke luar negeri” (bagus..bagus!!)

“Jadi Bupati” (pasti karanganyar nih..)

“nikah” (he?!) “emang lo ga mau nikah?” (bzz..krik..krik =.=”)

“paling S2 atau… *tersipu malu-malu* ” (waduh?!)

Mereka yang sudah punya rencana, impian dan mengucapkannya dengan tangan mengepal, keyakinan yang kuat serta semangat yang membara.

“kamu terlalu ribet, Yu!”, seorang teman berkomentar saat saya, dia dan seorang teman yang sudah menikah mengobrol ttg masa depan di sela-sela pengisian KRS.

“iya, lo terlalu ribet. istri gue aja nih, dulu punya rencana abis lulus–pengen s2, kerja, dsb..,

tapi setelah nikah dan mengandung akhirnya memutuskan untuk ga kerja, di rumah dan ngurus anak (setelah anak lahir, 5 bulan lagi, insya ALLAH)”

“kenapa sih, perempuan-perempuan jaman sekarang, bahkan yang muslimah seperti kamu, masih pengen kerja atau S2?”

“kenapa abis kuliah ga nikah dan setelah itu mengurus suami dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya?”

“toh, meski ibu ku cuma ibu rumah tangga, beliau bisa mensekolahkan aku sampai sini nih” *sama dong, ibuku juga 🙂 –hayu*

Mereka memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Subhanallah,

Mengurus suami dan mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya.

Itu fitrah wanita dan itu kewajiban, bukan?

Tapi, saya mulai berpikir lagi.

bukan, bukannya saya memandang rendah pekerjaan ibu rumah tangga (sampai sekarang saya masih mendukung pernyataan pak Mahbub Junaedi, ekonom Irak, seperti postingan saya ini)

bukan saya tak sepakat, namun saya tidak terima, bila para saudara saya memaknai keberadaan perempuan HANYA di sekitar dapur, sumur dan kasur.

Di pikiran saya saat ini, saya tidak mau HANYA menjadi ibu rumah tangga yang baik..

perhatikan penekanannya: HANYA menjadi ibu rumah tangga yang baik.HANYA.HANYA.HANYA 69X (lebay 🙂 )

siapa yang tidak mau mengurus suami dan anak-anaknya?

maksud saya, jangan hanya jadikan peran sebagai ibu rumah tangga sebagai satu-satunya peran kita.

Harus dipikirkan juga peran perempuan yang sebenarnya bisa lebih bermanfaat bagi ummat.

Manusia yang sebaik-baiknya adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, kan?

dan ini berlaku pula untuk wanita.

Wanita, harus memiliki kapasitas yang besar untuk tuntutan-tuntutan besar itu.

Tuntutan-tuntutan besar: mengurus suami, mendidik anak, mengurus rumah tangga (yang menurut saya ini salah satu langkah untuk membangun peradaban) dan berkontribusi untuk ummat.

Sebagaimana kapasitas besar yang dimiliki para muslimah terdahulu.

A’isyah yang cerdas, penghafal ribuan hadits, syair dan mengajarkan berbagai macam ilmu,

Khadijah yang seorang pengusaha internasional,

Asy Syifa’ binti ‘Abdullah Al ‘Adawiyah yang diangkat sebagai menteri pada zaman kekhalifahan Umar ibn Khattab,

etcetera etcetera..

Tak pernah ada cerita, mereka menelantarkan keluarga 🙂

Mereka, perempuan dengan kapasitas luar biasa.

Untuk para saudariku yang cantik, cerdas dan shalihat..

::karena wanita berhak memiliki cita-cita, harapan dan mimpi besar (quote from AR)

Advertisements

6 thoughts on “Perempuan.Nanti.Di Mata Mereka.

  1. hmm..
    i just wonder, what does the word “mereka” refer to?? 🙂

    klo mau kerja mah boleh-boleh aja, tentunya seimbang antara pekerjaan dengan mengurus (terutama mendidik) anak-anak..

    apalagi kalo bisa bekerja di rumah, pekerjaan lancar, anak masih bisa dipantau kan..
    so, Hayu jadi enterpreneur aja, trus kerja di rumah deh.. asik kan.. 😀

    1. aamin..
      iya ndra!!
      jadi entrepreneur di rumah juga ok..
      ato ngurus rumah sambil ngajar tpa ato apapun..
      wew..
      jadi pengen punya yayasan sendiri ^^

  2. Mbak, skrg nama tpa dah diganti dg nama tpq. Karena tpa memiliki banyak arti, bisa “t4 pembuangan akhir” atau “t4 penitipan anak”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s