mikirmikir · nostalgia

Jalan Kinanti

..and this is the story about it.

Teman-teman yang kosnya di Pogung atau Jakal, pasti tahu Jalan Kinanti yang saya maksud.

Atau kalo misalnya gak tahu, tahu Rumah Merah?

Rumah Merah (yang gosipnya dihuni banyak jin, tp sekarang udah dibongkar) itu berada di Jalan Kinanti.

Biasanya, jalan itu sepi dan hanya di lewati beberapa kendaraan.

sekarang udah tau kan?

fufufu..

siang hari sekitar jam 2 an, saya bersama Ning berniat meminjam CD serial di studio ONE.

karena dulu Ning (21/Wonosobo) belum bawa motor matic nya ke Yogya dan keinginan utuk segera menonton serial itu sudah begitu menggebu *wew*

maka, tanpa memperdulikan hari yang panas dan jarak dari Pogung Kidul-Jalan Kaliurang yang lumayan, saya dan Ning berjalan kaki menuju studio ONE.

di tengah perjalanan, di depan kantor registrasi UGM (yang cuma dipake setahun sekali), saya dan Ning bertemu seorang Ibu dan anaknya yang masih kecil.

Ibu itu terlihat kebingungan dan menyapa kami

“Mbak”

“Iya Bu?”

“Terminal Giwangan masih jauh?”

“Wah Bu, masih jauh, Ibu mau kemana?”

“waduh saya mau ke kota X. Ke Terminal Giwangan harus naik apa mbak? ”

“Ibu dari sini ke Jakal dulu, nanti ada jalur bus yang berhenti di Terminal Giwangan”

“Mmm mbak, aduh gimana ya..”

“Kenapa Bu?”

“Saya kecopetan. Sekarang saya sudah tidak punya uang lagi”

“Innalillahi, dimana Bu?”

“di bus. Mbak ada uang? saya mau ke kota X tapi dompet saya hilang mbak, saya sudah tidak punya uang lagi”

Saya dan Ning berpandangan.

Kebetulan saya tidak bawa uang sama sekali, karena memang Ning yang akan membayar uang sewanya.

Ning yang mengetahui hal itu, segera mengambil sejumlah uang dari dompetnya.

“maturnuwun mbak..uang saya hilang semua..”

saya merasa kasihan, tapi entah kenapa saya merasa ada yang aneh. ada yang salah. entahlah.

Saya dan Ning berjalan bersama si Ibu dan anaknya ke arah Jakal, setelah menunjukkan jalur bus arah terminal Giwangan, kami pun masuk ke Studio ONE.

Beberapa hari kemudian, saat saya ke kos Ning.

“Yu, kamu inget ibu dan anaknya yang waktu itu kehilangan uang, mau ke Giwangan di Jalan Kinanti?”

“Iya, kenapa Ning?”

“Dia penipu, Yu. Tadi, aku ketemu lagi sama dia dan anaknya. Dia ngaku kecopetan lagi dan mau ke terminal lagi dan ……”

****

bukan bermaksud meyudutkan jalan kinanti sih.

–saya bingung mau pake judul apa, akhirnya pake judul itu.hehe..

Setelah peristiwa itu, saya jadi tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal, yah setidaknya bersikap waspada..

Saya jadi menyesalkan sikap si Ibu, kalau ada orang yang benar-benar butuh bantuan, dan tidak ada orang yang mau membantu gimana ya?

Di sebuah stasiun TV ditayangkan reality show, yang menggambarkan betapa susahnya meminta tolong (bahkan sampai berjam-jam!).

Dan terkadang diperlihatkan kalaupun ada yang membantu, hal itu karena sudah tahu bahwa ia akan mendapat imbalan.

::Barangsiapa yang ikhlas karena ALLAH, maka hanya ALLAH yang berhak membalasnya dengan yang lebih baik dan siapa yang ikhlas kepada selain AllAH (hanya mencari ridho manusia)

maka ALLAH akan tinggalkan urusannya:: (saya ga tahu, ini hadits atau bukan. tapi kata2nya OK)

Yaaa..

Jadi intinya, WASPADALAH!! WASPADALAH!!

DAN BELAJAR IKHLAS!!

DAN LURUSKAN NIAT!!

DAN BERPRASANGKA BAIK!!

DAN …. (aah sudahlah, semoga cerita saya bisa diambil hikmahnya)

~P.S: ning, nanti akan diganti dengan yang lebih baik, insya ALLAH..(atau malah sudah? 🙂 )

Advertisements

One thought on “Jalan Kinanti

  1. Hampir mirip dengan kisahku beberapa minggu yang lalu.

    Waktu itu aku hendak mencari tiket kreta di St. Senen bersama seorang teman. Dalam perjalanan berangkat menuju stasiun ban belakang motorku bocor di depan GBK . Di daerah situ kan gak ada bengkel atau tukang tambal ban. Akhirnya aku dorong deh motor. Tapi blom lama aku dorong (paling baru 2 meter), ada seorang pejalan kaki yang nyamperin kita dan bertanya ” Bannya bocor ya mas?”. Akupun menjawab “iya”. “Ditambal disitu aja mas” kata orang itu sambil menunjuk sudut plataran GBK yang teduh. “Mana tukang tambalnya?” pikirku. “Udah naikin aja motornya mas”. “Ah, gak tau deh. Daripada capek dorong yang gak jelas tujuannya”, kuikuti aja kemauan orang itu. Setelah aku berada di posisi yang dikehendaki orang itu, diapun mulai mengeluarkan isi tasnya. Dalam tasnya ada kunci pas/ring, tang, jugil ban, pompa. Busyet, ternyata dia tukang tambal ban keliling.

    Dia mulai beraksi. Dan sampailah pada adegan mencari posisi bocor pada ban (secara, dia kan gak bawa ember/ bahkan air buat media deteksi kebocoran ban), lagi2 aku kaget dan baru ngliat kali ini. Dia mencari lokasi bocor hanya dengan meraba dengan telapak tangan. Kugojekin aja ” Wah, punya indra keenam ya Pak?” “Ya emang harus punya maen filling aja mas” katanya. Setelah ketemu, diapun mulai menambal posisi yang bocor. Kali ini aku dibikin penasaran “Pak, emang kuat ya kalo cuma pake lem aja?” (Secara dia nempelin bannya gak pake metode press, cuma ditempelin pake lem aja). Diapun jawab “kuat kok mas asal lemnya dibiarin kering dulu sebelum ditempelin”. “hmm… terserah deh, asal motorku bisa jalan lagi aja” pikirku. Dan gak ada 10 menit, selesai sudah oprasi penambalan ban motorku.

    Sebetulnya itu baru prolog. hehehe…
    Intinya disini nih… waktu mau bayar biaya tambal ban.
    “Berapa Pak?” tanyaku. “10 rb aja mas” kata tukang tambal ban. Pas mau bayar, eh keduluan dibayarin sama temenku. Dia bayar dengan uang 20rb dan bilang ke tukang tambalnya “kembaliannya ambil aja”. “Busyet, lagi kaya loe?” tanyaku. Diapun menarikku untuk cepat pergi dari tempat itu tanpa menanggapi pertanyaanku. Ditengah perjalanan kubahas lagi masalah biaya tambal ban tadi. “Heh, knp loe kasih 20 rb? 10 rb aja tuh udah lebih. Kalo di Jogja tambal ban tu cuma 6 rb aja dah bagus tambalannya. Kalo di Jakarta paling juga cuma 8 rb aja lah.” terocosku. Temenku jawab “loe perhatiin tukang tambal ban tadi gak?” “Knp emang?’tanyaku. “Kasian tau… Gak pasti dia dapet order tambalan. Lagian gue perhatiin dari awal nambal ampe selesai dia selalu tersenyum. Loe liat kan? terocosnya. “Ya iya lah senyum, lha wong bakalan dapet duit. Lagian tambalan kayak gitu kan gak tahan lama? gmn kalo ntar bocor lagi? Duitnya kan bisa unt nambal lagi.”timpalku. “Gini lho, gue lebih suka ngasih ke orang yang mau kerja/usaha daripada ngasih ke orang yang cuma nodong aja (pengemis).” katanya. “Ooo…, tapi gmn ntar kalo bocor lagi?” balasku. ‘Ya udah ditambal lagi” jawabnya. Oke de… Perjalananpun dilanjutkan.

    Sampai di St. Senen gak ada masalah. Tapi waktu perjalanan pulang, motorku bergoyang lagi (di daerah Kwitang). Waduh, bocor lagi. “bener kan gak kuat” keluhku. Akhirnya mencari tambal ban lagi. kali ni lumayan jauh. Tapi tukang tambal bannya memiliki alat yang lebih lengkap. Dan setelah selesai nambal. Lagi2 temenku yang bayar. Dan lagi2 dikasih 20rb. “Wah, bener2 emang lagi kaya loe ya?” kataku. “Yo, makasih banget deh dan maap motor gue dah nguras duit loe!” tambahku. “Halah, biasa aja. Lagian kan gue yang ngrepotin loe!” jawabnya.

    Hmm… gitu deh critanya. Maap kalo commentnya lebih panjang daripada tulisan yang dicommenin. Btw, tau kan kemiripan ceritanya? Atau gak mirip ya? hehehe… (paling gak sama2 kisah nyata, hahahaha)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s